Perusahaan Private Equity Menghadapi Krisis

Terbelakangnya sektor keuangan, besarnya potensi pasar domestik yang menguasai 70% dari kegiatan ekonomi dan kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi krisis adalah sejumlah faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini positif dibandingkan Negara Negara lain di Asia. Terlebih lagi banyak perusahaan di Indonesia yang telah belajar dari krisis 1997/1998, sehingga krisis saat ini bukan masalah yang terlalu serius bagi sejumlah perusahaan swasta atau yang sering disebut Private Equity Firm (PEF). Banyak perusahaan swasta telah mengurangi rasio utang terhadap modal untuk menghindari kebangkrutan dari 44% pada tahun 2004 menjadi 13,7% pada tahun 2008. hal ini jika dibandingkan dengan perusahaan swasta di Malaysia (20.4%), Singapore (22.4%), Philippines (27.3%), and Thailand (41.8%) maka rasio Debt/Equity perusahaan di Indonesia masih lebih kecil. Namun tentu saja jika keadaan ekonomi masih buruk seperti saat ini, perusahaan dengan neraca keuangan yang bagus pun akan terkena masalah dan membutuhkan injeksi modal.

Hal in terbukti dari banyaknya PEF yang suffered akibat krisis financial saat ini. Banyak bank yang enggan dan hati hati untuk mengucurkan dananya pada perusahaan swasta yang tidak kredibel. Karena itu perusahaan swasta harus mampu mengelola cash flow dengan benar agar dapat survive ditengah krisis saat ini. Banyak cara bisa dilakukan, misalnya dengan:

Pertama, mengembangkan model bisnis dengan diversifikasi adalah langkah bijak yang perlu diambil perusahaan. Don’t put your eggs into one basket, harus mengilhami konsep sebuah bisnis agar mampu survive. Kedua, mempunyai greater accountability. Banyak kritik dilayangkan pada perusahaan swasta karena rendahnya transparansi dan akuntabilitas keuangan mereka terhadap investor dan lingkungan. Ketiga, Mengurangi risiko pajak yang mungkin terjadi. Perusahaan melakukan ekspansi global dan mencari kesempatan investasi baru selain untuk menciptakan peluang yang ada juga untuk mengurangi risiko pajak yang terjadi. Keempat, berpikirlah selalu jangka panjang dalam memutuskan sebuah masalah.

Untuk sebuah perusahaan private equity, krisis adalah peluang bagi mereka. Terutama pada para pengusaha yang bergerak industri yang mempunyai capital expenditure yang tinggi seperti tambang dan infrastruktur. Perusahaan tersebut dapat mencari celah sewaktu krisis. Mereka percaya pemerintah saat ini akan lebih menggenjot kegiatan ekonomi dalam negeri (belanja infrastruktur demi persiapan pasca krisis untuk menyambut investor dari luar).

Leave a comment

Your comment

Anda Pengunjung ke:

free hit counters