LONDON SUMMIT: G20 akankah efektif untuk Indonesia?

Kemerosotan ekonomi AS sampai saat ini di karenakan dua hal. Pertama, pengeluaran yang sangat unproduktif militer AS sebagai penjaga dunia dari teror. Kedua, melemahnya sektor manufaktur akibat banyak produk saingan yang lebih kompetitif muncul dari negara lain. Dua hal ini yang menyebabkan bursa Wall Street menciptakan produk derivatif yang nilainya 684 triliun dollar AS atau 11 kali total PDB dunia. Industri derivatif ini menjadi penyebab utama terjadinya krisis yang sampai saat ini belum terselesaikan.

Sistem banking internasional yang telah runtuh, banyak perusahaan yang tutup, menurunnya volume perdagangan dan meningkatnya pengangguran adalah sederet dampak dari krisis ekonomi yang sampai sekarang belum juga selesai. Menganggapi hal itu, sebagai tindak lanjut dari Washington Summit pada November 2008 silam, maka pada 2 april 2009 akan diselenggarakan kembali pertemuan para pemimpin Negara G-20 di London. Pertemuan yang dilatar belakangi buruknya krisis bank internasional saat ini akan membahas tentang bagaimana meningkatkan koordinasi global untuk membantu mengembalikan pertumbuhan ekonomi global. Tiga komitmen yang harus disepakati dalam pertemuan itu adalah:

· Menstabilkan pasar finansial dan membantu para pelaku bisnis untuk keluar dari resesi

· Reformasi dan penguatan keuangan global dan sistem ekonomi untuk mengembalikan keyakinan dan kepercayaan

· Untuk meletakkan ekonomi global dalam kerangka pertumbuhan yang berkelanjutan.

KTM G-20 London sebelumnya telah mengeluarkan pemberitahuan resmi yang dalam pasal 7-nya menyatakan, International Organization of Securities Commission (IOSCO) akan meningkatkan peranannya sebagai badan pengawas supranasional untuk mencegah terulangnya krisis kembali. Pasal 8 KTM menyebut, perombakan kuota IMF untuk meningkatkan porsi emerging markets harus selesai pada Januari 2011. Sedangkan perombakan Bank Dunia harus diselesaikan pada April 2010, termasuk demokratisasi pimpinan BD/IMF harus berdasarkan meritokrasi dan bukan lagi kuota duopoli AS untuk BD dan Eropa untuk IMF.

World Trade Organisation (WTO) juga telah memprediksi bahwa perdagangan global akan turun menjadi 9% tahun ini. Penurunan ini adalah penurunan yang paling tinggi sejak perang dunia dua. Antara tahun 1990 sampai dengan 2006 pertumbuhan perdagangan dunia tumbuh lebih dari 6% per tahun. Namun saat ini mesin ekonomi bergerak kebalikannya. Eksport Jepang pada bulan feburari turun 50% dibandingkan februari tahun lalu. namun demikian impor negara ini juga mengalami penurunan yang tajam sehinggal neraca perdangangan jepang masih tercatat surplus.

Keruntuhan ini disebabkan oleh globalisasi. Jaman dahulu, barang diproduksi dalam suatu negara kemudian di export. Akan tetapi saat ini produk terdiri dari beberapa bahan yang berasal dari seluruh dunia. Statistic perdagangan melihat pada nilai, bukan pada nilai tambah, sehingga mereka banyak memasukan perhitungan ganda. Akibatnya ketika ekonomi terguncang, maka perdangangan akan terguncang lebih hebat.

Bank Dunia juga mengatakan, sejak pertemuan para pemimpin G-20 November lalu di Washington, DC, 17 negara diantaranya memiliki kebijakan perdagangan yang sangat ketat. Beberapa menaikan tariff, seperti India pada baja, Rusia pada mobil second, China juga telah melarang import daging babi dan merek Italia.

Dalam menyambut London Summit April mendatang, banyak negara yang telah melakukan persiapan dengan melakukan forum forum yang membahas solusi mengatasi krisis. Dalam pertemuan yang dilakukan menteri menteri keuangan negara G20 menghasilkan beberapa keputusan penting yang diantaranya adalah:

· Komitmen untuk memerangi segala bentuk protectionism dan menjaga perdagangan terbuka.

· Berjanji berusaha yang berkelanjutan untuk mengembalikan pertumbuhan.

· Memberikan bantuan kepada IMF agar dapat lebih membantu negara anggotanya

Tindakan nyata sangat diperlukan untuk menyelesaikan krisis ini dalam menghindari resesi ekonomi, perlindungan terhadap deflasi, penguatan sektor finansial dan mencegah tekanan dari kebijakan proteksi yang akan menghancurkan setiap negara. Karena itu dalam pertemuan London summit diharapkan para pemimpin dapat:

  • Mereview dampak krisis keuangan global dan apakah aksi yang diperlukan harus mengacu pada bagaimana memicu permintaan sesegera mungkin di mana hal ini konsisten untuk kesinambungan anggaran jangka panjang Menetapkan komitmen mereka dalam kestabilan harga dan menghindari deflasi dan mensuport bank sentral untuk melanjutkan kebijakan moneter yang dibutuhkan
  • Menetapkan kebulatan untuk mengambil tindakan apapun yang dibutuhkan untuk membuat ekonomi global lebih stabil termasuk tindakan untuk mendukung peminjaman.

Namun tampaknya KTT G-20 masih diwarnai adanya kekuatan dua golongan. Disatu sisi sikap AS sebagai super power yang selalu menginginkan hasil pertemuan adalah sebagai prasyarat pemulihan ekonomi, sedangkan disisi lain yang didominasi Eropa, emerging markets menginginkanpemulihan kepercayaan dengan merombak adanya kekuasaan moneter yang melebihi skala nasional sehingga kredibilitas pulih dan pasar menjadi normal kembali. Penggelontoran stimulus dalam kondisi lenyapnya kredibilitas tak akan menjamin suksesnya stimulus.

Bagaimana dengan Indonesia? Sangat diharapkan bahwa kehadiran Presiden SBY besok di KTT G-20 bukan untuk sekadar mengulangi minta dana dari IMF kembali. Paradigma era G-20, Indonesia sebagai anggota G-20 harus turut serta merombak dan menentukan pola operasi IMF kedepannya agar lebih menesejahterakan negara negara anggotanya.

Leave a comment

Your comment

Anda Pengunjung ke:

free hit counters