Hanya dari Sebuah Kata Enterpreunership Mahasiswa*
Ketika sistem ekonomi sedang terpuruk, bersembunyi dimanakah sekelompok mahkluk yang dijuluki mahasiswa sebagai agen perubahan?
“Dimuka bumi yang terhampar luas, yang kita namakan sebagai dunia tidak pernah kita temukan sesuatu yang tetap dan abadi, yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri” (diungkapkan oleh Heraclitos 535-475 SM). Sebuah perubahan yang dimaksud menuju tatanan masyarakat yang lebih baik, lebih adil dan sejahtera tentunya membutuhkan sebuah proses dan harus ada pelaku dari perubahan itu sendiri atau agent of change. Manusia memang beragam mulai dari yang materialisme, Hodenisme, Rasialisme serta Mistisisme. Apakah perubahan fisik manusia itu tidak diikuti perubahan daya pikirnya? seperti yang diungkapkan Charles Darwin. Seharusnya daya pikir manusia juga berubah seiring dengan perubahan bentuk fisiknya. Prolog diatas hanyalah untuk menggambarkan sebuah komunitas yang mengklaim dirinya sebagai komunitas intelektual yang berkesempatan untuk menimba konsep itu di suatu tempat yang disebut universitas.
Adalah mahasiswa yaitu sebuah kelompok yang terlahir akibat adanya kedzaliman zaman. Mungkin mahasiswa adalah sebuah produk anak haram yang terlahir dari dunia kotor, dunia yang memutarbalikkan fakta dan yang penuh dengan rezim kekuasaan para dheduwur yang berusaha mempertahankan status quo-nya. Kelahiran mahasiswa mungkin membuat mereka menjadi gencar yang diselubungi rasa kekhawatiran karena mahasiswa selalu menggembor-gemborkan akan adanya suatu perubahan yang bertujuan akan adanya suatu keadilan yang dijunjung tinggi bukannya kekuasaan.
Mahasiswa selalu menjadi elemen dalam perjuangan sebuah bangsa, tidak hanya pelopor dalam roda perjuangan sejarah Bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai penggerak, bahkan menjadi pemberi keputusan. Pergerakan mahasiswa yang selalu menempatkan dirinya sebagai agent of change dengan idealisme dan moral force yang dimilikinya. Dengan tidak mengesampingkan norma, nilai, dan tatanan yang berlaku di masyarakat, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa mahasiswa selama ini selalu menduduki garda terdepan dalam suatu change, mendongkrak kesewenang-wenangan rezim demi menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, karena mahasiswa masih memiliki idealisme yang relatif bebas dari vested interest politik, seperti kedudukan, jabatan dan kekayaan.
”Hijrah” pergerakan mahasiswa tumbuh dan berkembang di dalam kampus yang merupakan simbol akademik, kebebasan berargumen, berkreasi, dan berkomunikasi secara aktif/bebas. Ketika kita sadar kampus adalah bagian kedua dari kehidupan para aktivis, kita harus berusaha mengembangkan diri(self-improvement) untuk berekpresi dan beraktualisasi. Sebagai mahasiswa tidak lengkap rasanya apabila atribut kita tidak dipenuhi dengan sebuah perubahan dinamika dan romantika yang berguna bagi kelangsungan hidup suatu bangsa.
Dalam keheningan menatap situasi ke-Indonesiaan saat ini, akan membuat
kita muram. Dihantam krisis multi dimensi, membuat kita jatuh tersungkur, bahkan seakan berada di titik nadir. Dan rasanya kita tak tahu akan diletakkan dimana wajah kita, bila dihadapkan pada the founder of our nation. sekarang kita berkaca sebagai mahasiswa yang dapat melihat 38 juta rakyat yang menjerit menerima ketidakadilan dari para punggawa negara menghempas keluh keringat hanya untuk sesuap makan. Sebagai penyambung lidah rakyat, mahasiswa harus benar-benar melakukan perubahan. Perubahan disini bukan hanya ordinary change, tetapi adalah perubahan yang bisa menyingkirkan sifat ketidakadilan dan kesewenang-wenangan akan kaum darah biru terhadap proletar.
Tetapi kenyataannya berbicara lain, sebagian besar mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi belum bisa memberikan sumbangsihnya untuk membantu perbaikan bangsa ini. Salah satu penyebab kondisi ini adalah kurangnya wawasan yang dimiliki para mahasiswa / lulusan perguruan tinggi dalam hal kewirausahaan dan pentingnya kemampuan selain kemampuan teknis. setiap elemen masyarakat.
Hal itu tentu saja akan mencoreng nama mahasiswa dengan gelar yang disandangnya(agent of change).Bahkan ada anggapan bahwa mahasiswa masih terlalu berat untuk menerima atribut yang dibawanya, karena belum tampak adanya timbal balik atau konsekuensi logis dalam bentuk riil akan adanya atribut tersebut. Bahkan dirumah kedua para aktivis pun(kampus) telah terjadi degradasi moral mahasiswa yang terlena akan maya-nya dunia nyata.Sehingga mereka merasa dirinya bukan merupakan bagian dari agent of change dan agent of modernization.
Ketika mahasiswa dikaitkan dengan keadaan perekonomian bangsa, maka itu hanyalah sekedar wacana retoris. Karena sudah jelas itu adalah tugas mahasiswa sebagai agent of modernization yang harus bisa membawa Indonesia keluar dari terpuruknya sistem bangsa ini. Sekilas tentang pembangunan ekonomi dahulu yang selalu dikumandangkan besar-besaran dengan berbagai slogannya dan jatuh tertimpa slogan pembangunannya sendiri, akibat keberpihakan yang tidak seimbang terhadap ideologi-ideologi besar dunia. Keluar dari IMF pun ternyata tidak membawa Indonesia sebagai bengsa yang mandiri. Karena untuk mewujudkan bangsa yang lebih mandiri adalah sebuah perjuangan dan merupakan kerja keras yang tidak pernah berakhir. Kemandirian bagi Bangsa Indonesia
bukan lagi diukur dari statement/proklamasi kemerdekaan, namun ukurannya lebih kepada upaya mengisi kemerdekaan, dengan sikap mandiri, berbuat mandiri, dan membangun secara mandiri. Jika itu tidak kita lakukan, kemudian kita tertinggal, maka pesaing kita akan maju.
Sebagai mahasiswa kita harus tahu bahwa perekonomian dan kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh masyarakatnya sendiri, dimana sifat enterpreunership menjadi pondasi awalnya. Jika kita berkaca pada orang-orang Amerika yang mempunyai keinginan untuk berusaha mempunyai jiwa enterprener dengan berfokus pada world-class. Pertanyaan yang muncul dari statement tersebut adalah mengapa kita tidak bisa jika Amerika saja bisa?
Sebenarnya maju-tidaknya perekonomian suatu bangsa tergantung pada sifat enterpreunership yang dimiliki oleh masyarakatnya, terutama generasi mudanya. Sebagai mahasiswa yang termasuk dalam generasi muda kita harus berusaha mendapatkan jiwa enterpreunership dengan cara-cara yang benar. Mencontoh dari nama-nama besar seperti Herb Kelleher dengan Southwest Airlines-nya, Roberto Goizueta dengan Coca-Cola Company, Sir Richard Branson dengan Virgin Group, ataupun Elly Callaway dengan Callaway golf-nya pun tidak ada buruknya. Mereka mungkin mempunyai gaya enterpreuner yang berbeda-beda tetapi mereka semua berhasil karena dapat meletakkan gaya enterpreunership sesuai situasi dan kondisi yang tepat. Sebagai contoh saja Herb Kelleher dengan Southwest Airlines-nya yang selalu mengutamakan humor untuk para pelanggannya, mungkin tidak akan pernah bisa dipraktekkan di dalam perusahaan Callaway Golf, karena prinsip dasar kedua perusahaan memang berbeda. Yang menyamakan adalah desire mereka untuk memulai sesuatu yang baru karena melihat setitik celah keberhasilan. Mereka semua memulai usaha mereka dari nol, tetapi denga jiwa dan semangat enterpreuner mereka mampu mengubah sesuatu hal kecil yang membosankan menjadi sebuah perusahaan raksasa yang sulit ditandingi.
Mengapa kita sebagai generasi muda tidak bisa meniru mereka? Selama kita masih menjunjung tinggi semboyan seperti slogan silver queen”mumpung kita masih muda santai saja” maka tidak mustahil Bangsa Indonesia tidak mampu keluar dari ekonomi yang menjerat rakyatnya. Sebenarnya kita bisa memulai perubahan itu sekarang, dengan tidak bertumpu pada sifat individualisme dan primordialisme maka sebenarnya kita sudah menumbuhkan benih-benih jiwa enterpreunership dalam tubuh kita.
Tidak perlu dibayangkan, karena kita sudah terlambat, sifat enterpreunership harus kita kembangkan mulai detik ini juga, dengan menyamakan persepsi menuju Bangsa Indonesia yang disegani oleh semua bangsa, maka tidak lama lagi hal itu akan segera terwujud. Karena jika kita masih membayangkan maka kita hanya akan tersesat seperti sebuah pepetah ”telur dulu atau ayam dulu” maksudnya disini adalah kita harus memulai perbaikan sistem ekonomi oleh para ekonom sekarang ataukah kita harus mulai sekarang. Jadi untuk menghilangkan pepatah tersebut kita harus menyamakan persepsi bahwa ayam dulu-lah yang lahir. Artinya perubahan harus dimulai dari kita sendiri, karena hanya dengan cara itu kita semua dapat mewujudkan Bangsa Indonesia yang mandiri.
Bangsa yang mandiri ialah bangsa yang dapat menyediakan kebutuhannya sendiri, terutama terhadap barang yang dapat mereka produksi sendiri. Kemandirian akan meningkatkan kesejahteraan warga negara dan memperjelas eksistensi negara di mata dunia. Dengan jiwa enterpreunership kita dapat menemukan sepercik titik terang tersebut. Sebuah titik yang dapat membawa perubahan besar bagi bangsa kita, Bangsa Indonesia.
Tetapi memang benar esensi semua itu kembali kepada mahasiswa yang harus mau membangun jiwa enterpreunership. Saat ini sebagai mahasiswa, kita harus menyadari, ada banyak hal di negara ini yang harus diluruskan dan diperbaiki. Kepedulian terhadap negara dan komitmen terhadap nasib bangsa di masa depan harus diinterpretasikan oleh mahasiswa ke dalam hal-hal yang positif. Tidak bisa dimungkiri, mahasiswa sebagai social control terkadang juga kurang mengontrol dirinya sendiri. Sehingga mahasiswa harus menghindari tindakan dan sikap yang dapat merusak status yang disandangnya, termasuk sikap hedonis-materialis yang banyak menghinggapi mahasiswa.
Demi menjaga eksistensi dari atribut tersebut, adalah anda aktivis mahasiswa sebagai agent of change dan agent of modernization. Siapalagi yang akan melakukan perubahan kecuali anda.
* Didik Kurniawan Hadi


Wah, bagus banget mas tulisannya. Saya seringkali berdiskusi dengan teman-temen. Ketika saya KKN di Sumberagung tahun kemarin, saya berdiskusi tentang apa itu “agent of change”. Ya, saya sebagai mahasiswa, tidak bangga disebut sebagai seorang “agent of change” jika tidak ada yang saya “changed”. Ya kan ya?
Saya kira, perjuangan kita saat ini, tidak harus turun ke jalan dengan menjalankan aksi demo. Ya, sebagai orang keuangan, Anda pasti tahu. Opportunity costnya besar! hehehe.
Salah satu jalan perjuangan terbaik adalah bagaimana kita menciptakan lapangan pekerjaan. Bikin usaha lah. Saya setuju dengan pendapat Anda bahwa setiap mahasiswa musti memiliki jiwa ini, jiwa entrepreneurship.
Tapi harus diingat, menjadi seorang wirausaha tidaklah semudah yang dibayangkan. Kemarin saya gagal. Rugi, uang hilang, stres, pacar hilang… hahaha. Semuanya jadi satu. Itu resiko seorang wirausaha. Apalagi wirausaha muda, palagi mahasiswa. hehehe.