Memaknai Krisis Subprime di AS dan Eropa

Berdasarkan data Bloomberg, jatuhnya pasar kredit global yang sebagian besar disebabkan oleh krisis kredit perumahan subprime di Amerika Serikat telah mengakibatkan kerugian US$ 319 miliar pada industri perbankan global. Sementara penghapusan piutang kredit diprediksi masih akan terus terjadi, data tersebut membuktikan bagaimana krisis yang terjadi akan memaksa bank-bank terkemuka di dunia – beberapa juga hadir di Indonesia – untuk mengubah pola bisnisnya. Walaupun dampak langsung dari krisis subprime ke pasar keuangan dan perekonomian Indonesia cukup teratasi, banyak yang dapat kita pelajari dari pengalaman pahit bank-bank asing terkemuka yang relevan untuk segera diterapkan di Indonesia.

Citigroup merupakan bank dengan kerugian terbesar sejak krisis mulai yang penurunan nilai hutangnya mencapai US$40,9 miliar serta mengakibatkan pengunduran diri Chief Executive Citigroup Chuck Prince. Nasib yang sama juga dialami Merryl Lynch. Penurunan nilai hutang senilai US$31,7 miliar juga mengakibatkan pengunduran diri Chief Executive-nya, Stan O’Neal.

Dapat dipastkan bahwa mereka yang paling banyak mengalami kerugian akan menghadapi tantangan yang paling berat untuk melakukan perubahan. Sebagai contoh, investor Citigroup menuntut institusi tersebut untuk memecah operasinya menjadi beberapa bagian.

Beberapa institusi bahkan telah memulai perubahan besar. Bank of America (BoA) yang juga mengalami kerugian signifikan akibat krisis sub-pime, telah melakukan pemotongan jumlah karyawan lebih dari 1.500 orang dari berbagai unit bisnisnya. BoA juga mengumumkan penjualan bisnis prime brokerage dan Collateralized Debt Obligation (CDO). Sementara, Bear Stearns sampai hampir harus gulung tikar dan sahamnya akhirnya diakuisisi oleh JP Morgan senilai US$10 per saham atau total US$1,2 miliar. Hal itupun dilakukan JP Morgan setelah US Federal Reserve memutuskan untuk membiayai aset Bear yang masih ada di pasar senilai US$29 miliar. Bangkrutnya Bear Stearns sangat ironis dan mengenaskan mengingat saham Bear Stearns masih diperdagangkan di level tertinggi pada Januari tahun lalu yaitu senilai US$169. Majalah Fortune beberapa minggu yang lalu mengupas jatuhnya Bear Stearns bagaikan sebuah novel yang menyedihkan dimana perusahaan yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang terbesar dan terkemuka harus gulung tikar hanya dalam hitungan minggu atau bahkan hari.

Sementara, hal berbeda terjadi pada Goldman Sachs dimana pendapatan bersihnya (net revenue) meningkat di tahun 2007 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Goldman Sach tampaknya berhasil menghindari dan mengatasi krisis.

Agak berbeda dengan Amerika, hal sebaliknya terjadi pada sektor perbankan Eropa. Model bisnis mereka yang konservatif telah menyelamatkan bank-bank Eropa ini dan berhasil mencetak pertumbuhan dalam beberapa tahun belakangan ini.

Deutsche Bank, salah satu bank terbesar di Eropa, melaporkan peningkatan laba sebesar 7% di tahun 2007 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini merupakan salah satu bukti keberhasilan dalam menghindari krisis. Meskipun Deutsche Bank melaporkan kerugian bersih (net loss) senilai EUR 141 juta pada kuartal pertama 2008 minggu lalu sebagai akibat dari penurunan nilai hutang berisiko tinggi (write-downs on leveraged loans) dan turunnya kondisi pasar secara umum, Deutsche Bank dapat dikatakan berhasil mengatasi dan mengantisipasi akibat krisis lebih baik dibandingkan dengan institusi keuangan tingkat dunia lainnya.

Contoh institusi Eropa lainnya yang berhasil melewati krisis adalah Credit Suisse. Meskipun begitu, hal ironis terjadi pada institusi ini; mereka mengumumkan pengurangan nilai aktiva sebesar US$2,85 miliar seminggu setelah melaporkan kinerja kuartal keempat yang menggembirakan. Walhasil, kinerja kuartal pertama 2008 Credit Suisse mengalami kerugian sebesar US$2 miliar.

Tidak demikian halnya dengan UBS, yang akan melaporkan pendapatan kuartal pertama 2008 pada 6 Mei mendatang. Institusi ini telah menurunkan nilai aktivanya senilai US$38 miliar sejak krisis berlangsung. Penghapusan kredit ini merupakan yang terbesar dibandingkan dengan bank-bank Eropa lainnya dan merupakan yang terbesar kedua di dunia sesudah Citigroup. Lebih dari itu, krisis ini juga telah menyebabkan Chief Executive UBS Peter Wuffli dan Chairman UBS Marcel Ospel mengundurkan diri. Serupa dengan Citigroup, pasar menuntut UBS untuk melakukan perubahan signifikan. UBS dituntut untuk punya visi yang lebih jelas terutama berkaitan dengan pemisahan antara bisnis investment bank dan wealth management. Bos UBS yang baru Marcel Rohner mengatakan kepada para investor dalam RUPS 23 April lalu, ”Kami tidak lagi bertujuan menawarkan segala sesuatu kepada semua orang dalam bidang investment banking. Kami tidak boleh lagi melakukan konsentrasi risiko yang tidak perlu. Modal yang dibutuhkan bagi investment bank untuk tumbuh di masa depan harus dikumpulkan dari bisnis masing-masing unit”.

Untuk memperkuat neraca keuangannya, menurut Bloomberg, UBS terpaksa menyuntikan dana segar senilai US$26,9 miliar sejak tahun lalu. Marcel Rohner menyampaikan kepada investor dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) bahwa ia akan melanjutkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dari total 1.500 karyawan yang telah dilakukan sejak krisis berlangsung. Pemotongan jumlah karyawan ini sangat diharapkan dapat memperkuat bisnis investment banking, sesuai dengan pernyataan Chairman UBS Peter Kurer untuk menjadikan wealth management sebagai fokus utama dari bisnis UBS.

Tahun 2008 akan menjadi tahun perubahan signifikan di industri perbankan global. Bagi beberapa bank, tingkat perubahan yang dibutuhkan akan bergantung pada kuatnya ketahanan mereka dalam menghadapi krisis.

Walaupun krisis sub-prime di AS tidak berdampak langsung dan jika ada juga tidak terlalu signifikan terhadap pasar keuangan di Indonesia, banyak yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan oleh industri perbankan nasional.

Hal pertama yang dapat diplejarai adalah pentingnya kejujuran dalam keterbukaan. Ini selalu menjadi modal utama dalam bisnis apapun dalam keadaan apapun. Krisis subprime yang seyogyanya adalah krisis kredit perumahan berubah menjadi krisis kepercayaan antar institusi dan otoritas keuangan di pusat-pusat keuangan dunia seperti New York, London, Tokyo, Hong Kong, dan Singapura. Salah satu penyebabnya adalah karena institusi keuangan terbesar seperti Citigroup, UBS, Merry Lynch, Bear Stearns, dan lainnya tidak terlalu terbuka pada saat awal krisis mengenai risiko yang mereka tanggung. Hampir semua dari institusi keuangan terbesar mengatakan hal yang sama, yaitu ”Kami memang menanggung kerugian dari masalah subprime, namun tidak banyak”. Ternyata hanya beberapa minggu dari pernyataan publik tersebut dikeluarkan, masing-masing melaporkan kerugian yang berlipat ganda. Hal ini bukan saja buruk bagi institusi masing-masing tapi juga buruk bagi pasar secara keseluruhan karena investor dan otoritas menjadi tidak percaya dengan kualitas informasi yang disampaikan oleh mereka. Hanya karena mereka enggan menyampaikan informasi yang akurat dengan cepat dan jujur, hasilnya adalah krisis informasi dan krisis kepercayaan.

Sebaliknya mereka yang dengan jujur melaporkan kerugian sesungguhnya secara utuh dan cepat kepada pasar tidak saja berhasil mengatasi krisis dengan lebih baik tapi juga mendapatkan uluran tangan dari pihak luar. Bear Stearns, walaupun terlambat, mendapatkan tawaran solusi dari beberapa institusi seperti Temasek dan bank dari Cina ketika pada akhirnya memilih untuk membuka tingkat permasalahan yang mereka hadapi. JP Morgan yang akhirnya mengakuisisi Bear Strearns.

Kedua, kerapihan sistem dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance - GCG) menjadi ujung tombak pertumbuhan yang paling efektif di saat normal, dan benteng pertahanan yang paling kokoh di saat krisis. GCG membuat perusahaan jauh dari benturan kepentingan apalagi di pasar keuangan di mana benturan kepentingan tersebut terkadang sulit dikenali atau memang sangat menggoda. Salah satu contohnya adalah pemisahan antara buying side dengan selling side dalam sebuah institusi keuangan. Dalam contoh UBS, wealth management merupakan bagian dari buying side yang bertugas membeli instrumen investasi untuk kepentingan masyarakat penanam modal (investor). Sedangkan investment bank merupakan bagian dari selling side yang bertugas untuk menjual instrumen investasi untuk kepentingan klien.

Ketiga, sinergi antara perbankan dengan pasar modal harus dikaji kembali secara menyeluruh untuk memastikan bahwa tidak ada benturan kepentingan, dan bahwa masyarakat baik nasabah perbankan maupun investor pasar modal, terlindungi dengan baik melalui perangkat peraturan yang cukup jelas dan penegakan hukum yang konsisten. Saat ini adalah waktu yang terbaik bagi perbankan dan pasar modal Indonesia untuk duduk bersama menggariskan visi masa depan yang paling menguntungkan dan saling menguatkan baik bagi industri perbankan maupun pasar modal nasional. Apalagi, telah terjadi pergeseran nyata pada masyarakat Indonesia yaitu dari masyarakat penabung (saving society) menjadi masyarakat penanam modal (investing society).

Dalam 10 tahun terakhir, industri perbankan nasional telah susah payah namun sungguh-sungguh memulihkan diri dari krisis keuangan Asia 1997. Caranya adalah dengan perbaikan sistem, penguatan GCG dan inovasi. Semakin banyak bank nasional yang tidak saja juara dalam kompetisi namun juga jawara dalam melayani sehingga dapat memenangkan kepercayaan nasabahnya walaupun harus bersaing dengan bank-bank asing. Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan lebih lanjut oleh bank-bank nasional.

Demikian juga dengan industri pasar modal nasional. Sinergi di antara industri tersebut mutlak harus direncanakan dan diimplementasikan sesuai dengan kebutuhan perekonomian nasional. Yang penting bukan saja mensinergikan kapabilitas, tapi juga membangun kesepahaman atas pentingnya keterbukaan dan kejujuran.

Grafik: Bank berbasis di AS merupakan yang terparah dalam krisis sub-prime

Pemotongan dan kerugian kredit yang dialami bank besar, seperti dilaporkan pada 21 April 2008


Sumber: Bloomberg

Leave a comment

Your comment

Anda Pengunjung ke:

free hit counters