Indonesia Foot Ball in Misery
Begitu sulitkan mencari 23 orang dari 200juta penduduk di Indonesia yang bisa bermain bola??. Melihat kekalahan Indonesia dari Thailand kemarin membuat hatiku menjadi pilu. Sepak bola di Indonesia benar benar telah menjadi paradok yang ironis..
Jika orang orang di Brasilia selalu bilang bahwa sepak bola adalah mata pencaharian mereka, mereka bangga karena anak anak sejak kecil telah berlatih di jalanan untuk meningkatkan skill mereka. Namun sebenarnya orang orang Indonesia tidak kalah sebenarnya, anak anak kecil di sini telah ikut berbagai macam sekolah sepak bola yang ternama, bahkan tim anak Indonesia bisa bersaing di dunia pada pertandingan yang diadakan danone.
Namun sedikit hasil diskusi bersama temanku beberapa waktu yang lalu, terdapat beberapa masalah dalam persepakbolaan Indonesia, yaitu:
- Di Indonesia profesi menjadi atlet belum menjanjikan untuk dijadikan tumpuan hidup
- Kebanyakan pemain sepak bola indoesia tidak berpendidikan tinggi.Orang orang pintar yang kebanyakan lulus strata 1 lebih memilih untuk menjadi karyawan yang memiliki jenjang karir lebih menjanjikan, padahal dalam semua cabang ilmu, kecerdasan otak sangat mempengaruhi untuk menunjang keberhasilan. (memilih sepak bola sebagai akibat, bukan sebagai sebab)
- Belum adanya konsen pemerintah yang lebih mengenai olahraga ini, pemerintah masih focus pada bidang ekonomi.
Melihat beberapa kendala tersebut, sebenarnya bisa dilakukan beberapa langkah untuk membenahi system ini.
1. Dukungan pemerintah untuk membuat standar gaji yang lebih menjanjikan misalnya, sehingga orang tua tidak perlu ragu ragu untuk mensekolahkan anaknya untuk bersepak bola
2. Mengikut kebijakan thanksin (PM Thailand) yang mengirim pemainnya ke luar negeri untuk training bersama club club terkenal.
3. Peningkatan sarana dan prasarana
4. Benahi mental, benahi fisik, benahi sikap, benahi karakter penonton, kita harus bisa menghargai lawan.
Semoga tulisan ini ada yang membaca dan memberi masukan bagi persepak bolaan Indonesia
Oleh: Didik Kurniawan Hadi dengan Hendro ketika diskusi dalam sebuah perjalanan menggunakan kereta ekonomi dari Jakarta-yogyakarta
Translate in English
Is it so complicated to look for 23 people from 200million resident in Indonesia which can play foot ball? After saw Indonesia team drubbing from Thailand yesterday make my heart become lugubrious. Football in Indonesia has come to the ironic paradox.
If people in Brasilia always spell out members that football is their living, they proud because since their child they already have exercised in public road to increase their skill. But in fact Indonesian people don’t fail in fact, since their childhood they are have already been followed assorted of football school which distinguished for, even team of Indonesia child can compete in children world cup performed sponsored by DANONE.
But as a little discussion result with my friend some times ago, there are some internal issues of Indonesia football, that is:
- In Indonesia, Footballers profession not yet promised to be made a fulcrums live
- Mostly footballer education in Indonesia wasn’t well educated. Indonesian which has passed bachelor degree more opting to become the employees owning career ladder that more promising of course. Though in all science branches, brain intelligence is very influencing to support the efficacy. (Choosing football as effect, non as cause)
- Not yet the existence of more hitting concern government of this athletics, government still focuses at economic area.
See some that constraints, in fact can be done with some step to correct this system:
- Governmental support to make the more promising salary standard for example, so that doubt parent needn’t be indecisive to send to school its child for the football
- To following policy Thanksin ( PM Thailand) sending its player out country for the training of with famous football club
- Make-Up of football infrastructure
- Correct to bounce, correct the physical, correct the attitude, correct the audience character, we should be able to esteem the opponent.
Hopefully this article there [is] reading and giving input for Football association in Indonesia
By: Didi Kurniawan Hadi and Hendro @ train Jakarta-Yogya

